Dasar Benefit
Definisi Manfaat Menurut Mondy & Noe (2005) benefits atau manfaat adalah semua manfaat finansial yang biasanya didapatkan oleh karyawan secara tidak langsung. Beberapa program yang termasuk dalam Benefits yaitu
- asuransi,
- program kesehatan,
- keamanan,
- keselamatan, dan
- kesejahteraan umum.
Manfaat Yang Diwajibkan / Mandatory Benefits
Manfaat wajib adalah manfaat yang diwajibkan dalam perundang-undangan. Menurut Mody & Noe (2005) yang termasuk dalam Mandated Benefits adalah Jaminan Sosial, Kompensasi Pekerja, Kompensasi Pengaguran , dan Family and Medical Leave Act.
Jaminan Sosial / Social Security
Program asuransi sosial yang menyediakan perlindungan sosial atau perlindungan terhadap kondisi yang diakui sebagai kondisi sosial seperti kemiskinan, jaminan di hari tua, cacat fisik, pengangguran dan yang lainnya. Bentuk dari perlindungan ini dapat berupa asuransi. Jenis perlindungan yang paling baru saat ini adalah Medicare, yaitu program kesehatan yang menyediakan asuransi kesehatan bagi karyawan yang biasanya diselenggarakan oleh pemerintah.
Kompensasi penganguran / Unemployment Compensation
Asuransi
pekerjaan menyediakan pembayaran bagi karyawan yang kehilangan
pekerjaan bukan karena kesalahan yang ia lakukan. Di negara-negara maju,
pekerja umumnya memiliki benefit ini.
Kompensasi Pekerja / Workers’ Compensation
Kompensasi Pekerja / Workers’ Compensation
Kompensasi pekerja menyediakan
tingkatan perlindungan finansial bagi karyawan yang mengeluarkan biaya
karena kecelakaan atau penyakit yang terjadi yang berhubungan dengan
pekerjaan.
Family and Medical Leave Act
Family and Medical Leave Act
digunakan oleh perusahaan swasta yang memiliki 50 atau lebih karyawan
dan seluruh pegawai negeri berapapun jumlahnya. FMLA memberikan cuti
hamil sampai dengan 12 minggu , yang juga diberikan kepada pekerja untuk
merawat pasangannya atau anggota keluarganya yang menderita ganguan
kesehatan serius.
Manfaat Sukarela / Voluntary Benefits
Manfaat
sukarela merupakan manfaat yang biasanya akibat dari keputusan sepihak
manajemen di beberapa perusahaan dan dari negosiasi manajemen dengan
serikat pekerja.
Menurut Mondy & Noe (2005) yang merupakan voluntary benefits, diantaranya :
- Pembayaran untuk waktu tidak bekerja / payment for time not worked
- Perawatan kesehatan / health care
- Asuransi jiwa / insurance life
- Rencana pensiun / retirement plans
- Employee stock option plans (ESOP)
- Supplemental unemployment benefits (SUB)
- Layanan karyawan / Employee service
- Pembayaran premi / premium pay
- Benefit bagi karyawan paruh-waktu / benefits for part-time employees
UU Jaminan Kesehatan
Menurut Mondy dan Noe sejarah dari undang-undang di Amerika tentang pemberian kompensasi yaitu
- Consolidated Omnibus Budget Reconciliation Act of 1985 (COBRA)
- Health Insurance Portability and Accountability Act of 1996 (HIPAA)
- Employee Retirement Income Security Act of 1974 (ERISA)
- Older Workers Benefit Protection Act (OWBPA)
Sedangkan
di Indonesia, pengaturan tentang Jaminan Kesehatan Karyawan diatur
dalam UU Republik Indonesia Tentang Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003
Kompensasi Non-finansial
Kompensasi non-finansial adalah balas jasa yang diberikan perusahaan kepada karyawan bukan berbentuk uang, tapi berwujud fasilitas, termasuk imbalan bukan uang misalnya rasa aman, atau lingkungan kerja. Komponen kompensasi non-finansial terdiri dari pekerjaan, dan lingkungan pekerjaan secara keseluruhan. Pengaturan ini membuat tempat kerja lebih fleksibel sehingga lebih diinginkan kehidupan kerja karyawan yang nyaman, pengembangan diri, fleksibilitas karier, peluang kenaikan penghasilan, simbol status, pujian dan pengakuan (Mondy & Noe; 2005)
Pekerjaan sebagai faktor Kompensasi Total
Pekerjaan sebagai faktor kompensasi total, secara keseluruhan menjelaskan bahwa pekerjaan dapat menjadi faktor kompensasi tersendiri untuk memacu motivasi pekerja agar dapat bekerja secara optimal.
Yang termasuk dalam
pekerjaan sebagai faktor kompensasi total adalah:
- Karakteristik Pekerjaan,
- Ragam Ketrampilan,
- Identitas Tugas,
- Makna Tugas,
- Otonomi,
- Umpan Balik, dan
- Cyberwork.
Lingkungan Pekerjaan sebagai Faktor Kompensasi Total
Menurut Mondy & Noe (2005) lingkungan pekerjaan sebagai faktor kompensasi secara keseluruhan menjelaskan bahwa lingkungan pekerjaan dapat menjadi faktor kompensasi tersendiri dimana pekerja mendapatkan kepuasan
Lingkungan kerja dalam suatu perusahaan, terutama lingkungan kerja fisiknya, sangat penting untuk diperhatikan manajemen. Meskipun lingkungan kerja tidak terlibat proses produksi dalam suatu perusahaan, namun lingkungan kerja mempunyai pengaruh langsung terhadap para karyawan yang melaksanakan proses produksi tersebut.
Menurut Mondy & Noe (2005) yang termasuk dalam lingkungan Pekerjaan Sebagai Faktor Kompensasi adalah:
- Sound Policies,
- Pegawai Kompeten,
- Congenial Co-Workers,
- Appropriate Status Symbols,
- Working Condition.
- Sound Policies, adalah kompensasi dimana perusahaan memberi kebebasan berpendapat kepada pekerja, tanpa rasa takut, keraguan, atau kurang percaya diri, maka manfaatnya akan dapat dirasakan oleh kedua belah pihak, baik pekerja maupun perusahaan.
- Pegawai Kompeten/Competent Employees, Organisasi yang sukses selalu menekankan pengembangan pekerja yang berkelanjutan dan bukan hanya mempekerjakan manager yang kompeten.
- Congenial Co-Workers, Hubungan yang baik dengan rekan kerja akan memberikan kompensasi tersendiri bagi pekerja. Oleh karena itu, sangat penting bagi organisasi untuk memelihara dan mengembangkan hubungan yang baik antara pekerja, agar mereka dapat berbagi pendapat dan mencapai tujuan dengan harmonis, sehingga kerja tim dapat terlaksana dengan lebih efektif.
- Appropriate Status Symbols, adalah rewards yang diberikan organisasi dimana pekerja diperbolehkan mengatur sendiri bentuk kantornya, seperti luas kantor dan lokasi, ukuran meja dan kualitasnya, sekretaris pribadi, penutup lantai., dan lain-lain
- Kondisi Pekerjaan/Working Condition, Kompensasi yang dapat diberikan organisasi dengan menyediakan tempat kerja yang nyaman. Pekerja akan merasa puas karena kondisi dimana mereka bekerja terasa nyaman.
Faktor-faktor dalam Fleksibilitas Tempat Kerja
Untuk pekerja yang sulit menyeimbangkan waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, kadang baginya waktu akan sama pentingnya dengan uang. Hal inilah yang menyebabkan banyak pegawai yang mengajukan benefit yang flexible, seperti telekomunikasi dari rumah, flextime, dan pemadatan jam kerja.
Bagi perusahaan, workplace flexibility dapat menjadi kunci strategis untuk menarik dan menahan pekerja yang paling bertalenta, karena menurut penelitian terdapat kolerasi yang kuat diantara keduanya. Beberapa kemudahan yang ditawarkan dalam pekerjaan menurut Mondy & Noe (2005), adalah:
- Flextime, Yaitu praktek yang mengijinkan pekerja untuk memilih sendiri jam kerjanya, dalam beberapa batasan. Dalam system Flextime, pekerja bekerja dalam jumlah kerja yang sama perharinya dengan jumlah jam kerja mereka pada jadwal normal. Tetapi, mereka tetap bekerja pada jam yang disebut dengan bandwidth, yang mana adalah panjang jam kerja seharinya
- Core time adalah bagian dari hari kerja yang mana semua pekerja harus hadir.
- Compressed Workweek, Yaitu susunan jam kerja yang mengijinkan pekerja untuk memenuhi kewajiban bekerja mereka dalam hari yang lebih sedikit dari pada lima hari kerja yang biasa.
- Job Sharing, Yaitu pendekatan pekerjaan yang menarik bagi orang yang ingin bekerja lebih sedikit dari 40 jam perminggu. Dalam Job Sharing dua orang yang berbeda dengan waktu kerja yang berbeda membagi satu pekerjaan dalam cara yang telah disepakati dan dibayar sesuai dengan kontribusi mereka.
- Flexible Compensation (Cafetaria Compensation), Yaitu mengijinkan pekerja untuk memilih dari beberapa alternatif benefit yang ada. Karyawan biasanya ditawari benefit dasar dan benefit pilihan. Benefit dasar misalnya tunjangan kesehatan seadanya, asuransi jiwa setara gaji satu tahun, dan waktu libur berdasarkan lama pelayanan. Nantinya, karyawan bisa menggunakan kredit fleksibelnya, misalnya untuk tunjangan kesehatan lengkap termasuk mata dan gigi atau hari libur yang lebih panjang.
- Telecommuting, Yaitu susunan pekerjaan yang mengatur karyawan agar dapat bekerja dari luar kantor, dan melaksanakan pekerjaan dengan menggunakan computer atau alat elektronik lain sebagai penghubung mereka dengan kantor. Kesadaran akan perlunya life balance, ditambah kombinasi komponen waktu, biaya, belum lagi kemacetan bagi para pekerja di kota besar membuat model bekerja ini menjadi tren.
- Part-Time Work, Yaitu mengijinkan pekerja untuk bekerja paruh waktu dari waktu biasa. Mereka dibayar sesuai dengan jam kerja mereka.
- Perubahan Pensiun/ Modified Retirement, adalah pilihan yang mengijinkan pekerja yang lebih tua untuk bekerja lebih sedikit dari pada jam biasa untuk beberapa waktu menjelang pensiun.
Isu-isu Kompensasi ;lainnya
Menurut Mondy & Noe (2005) beberapa isu yang berkaitan dengan kompensasi yang layak disebutkan dalam masalah ini meliputi uang pesangon, kesetaraan nilai / comparable worth, pembayaran kerahasiaan / Pay secrecy, dan penekanan pembayaran / pay compression.
Dasar Kompensasi
Definisi KompensasiKompensasi adalah merupakan kontra prestasi terhadap penggunaan tenaga atau jasa yang telah diberikan oleh tenaga kerja, atau
Kompensasi merupakan jumlah paket yang ditawarkan organisasi kepada
pekerja sebagai imbalan atas penggunaan tenaga kerjanya.(Wibowo, 2007)
Sedangkan Werther dan Davis (1996) menyatakan kompensasi sebagai apa
yang diterima pekerja sebagai tukaran atas kontribusinya kepada
organisasi. Selanjutnya Werther dan Davis menyatakan bahwa di dalam
kompensasi terdapat sistem insentif yang menghubungkan kompensasi dengan
kinerja.
Pengertian lain dari kompensasi menurut Schoell et.al dalam Buchari Alma (2003), Compensation is all form of pay or benefits for employees that arise from their employment. Yang dimaksud dengan bentuk pembayaran atau benefits yang diterima oleh karyawan adalah:
- Direct Financial seperti: wages, salaries, dan bonus
- Indirect Payments seperti fringe benefitis yaitu keuntungan dalam bentuk asuransi, cuti dan libur.
- Nonfinancial reward, yaitu berupa penghargaan bukan dalam bentuk uang seperti pekerjaan, jabatan yang menjanjikan masa depan, pengaturan jam kerja yang lebih santai/ fleksibel.
Macam - Macam Kompensasi
Dilihat dari cara pemberiannya, kompensasi dibagi menjadi
- kompensasi langsung dan
- kompensasi tidak langsung.
Kompensasi langsung merupakan kompensasi manajemen seperti upah, gaji dan insentif
Kompensasi tidak langsung dapat berupa tunjangan atau jaminan keamanan dan kesehatan.
Pemberian kompensasi dapat terjadi tanpa ada kaitannya dengan prestasi, seperti upah dan gaji.
Upah adalah kompensasi dalam bentuk uang dibayarkan atas waktu yang telah dipergunakan,
sedangkan Gaji adalah kompensasi dalam bentuk uang yang dibayarkan atas pelepasan tanggungjawab atas pekerjaan.
Istilah upah biasanya dipergunakan untuk memberikan kompensasi kepada tenaga kerja yang kurang terampil, sedangkan gaji dipergunakan untuk memberikan kompensasi kepada tenaga terampil.
Namun, kompensasi dapat pula diberikan dalam bentuk insentif, yang merupakan kontra prestasi di luar upah atau gaji, dan mempunyai hubungan dengan prestasi sehingga dinamakan sebagai pay for performance atau pembayaran atas prestasi.
Sedangkan bentuk kompensasi lain berupa tunjangan umumnya tidak
dikaitkan dengan prestasi kerja. Tunjangan lebih banyak dikaitkan kepada
pemberian kesejahteraan dan penciptaan kondisi kerja sehingga pekerja
lebih merasa nyaman dan merasa mendapat perhatian atasan.
Tujuan Manajemen Kompensasi
Tujuan manajemen kompensasi adalah untuk membantu organisasi mencapai keberhasilan strategis sambil memastikan internal equity dan external equity.
Internal equity (keadilan internal) memastikan bahwa jabatan yang lebih menantang atau orang yang mempunyai kualifikasi lebih baik dalam organisasi dibayar lebih tinggi.
Sedangkan external equity (keadilan eksternal) menjamin bahwa pekerjaan mendapatkan kompensasi secara adil dalam perbandingan dengan pekerjaan yang sama di pasar tenaga kerja.
Menurut Werther and Davis dalam Wibowo (2007) menyatakan tujuan manajemen kompensasi adalah:
- Memperoleh personil berkualitas; Kompensasi perlu ditetapkan cukup tinggi untuk menarik pelamar. Tingkat pembayaran harus tanggap terhadap permintaan dan penawaran tenaga kerja di pasar kerja karena harus bersaing untuk mendapatkan tenaga kerja.
- Mempertahankan karyawan yang ada; Pekerja dapat keluar jika kompensasi tidak kompetitif dibanding perusahaan lain, akibatnya tingkat perputaran tenaga kerja (labour turn over) tinggi. Dengan demikian perlu dipertimbangkan mana yang lebih baik dan menguntungkan antara meningkatkan kompensasi dengan mencari pekerja baru dengan konsekuensi harus melatih kembali pekerja baru.
- Memastikan keadilan; Manajemen kompensasi berusaha keras menjaga keadilan internal dan eksternal. Keadilan internal memerlukan bahwa pembayaran dihubungkan dengan nilai relatif pekerjaan sehingga pekerja mendapatkan pembayaran yang sama. Keadilan eksternal berarti membayar pekerja sebesar apa yang diterima pekerja yang setingkat di perusahaan lain.
- Menghargai perilaku yang diinginkan; Pembayaran harus memperkuat perilaku yang diinginkan dan bertindak sebagai insentif untuk perilaku di masa depan. Rencana kompensasi yang efektiff menghargai kinerja, loyalitas, keahlian dan tanggung jawab.
- Mengawasi biaya; Sistem kompensasi yang rasional membantu organisasi memelihara dan mempertahankan pekerja pada biaya yang wajar. Tanpa manajemen kompensasi yang efektif pekerja dapat dibayar terlalu tinggi atau terlalu rendah.
- Mematuhi peraturan; Sistem upah dan gaji yang baik mempertimbangkan peraturan pemerintah dan memastikan pemenuhan kebutuhan pekerja.
- Memfasilitasi saling pengertian; Sistem manajamen kompensasi harus mudah dipahami oleh manajer dan pekerja. Dengan demikian, harus bersifat terbuka sehingga akan terjalin saling pengertian dan menghindari kesalahan persepsi.
Dasar Pengembangan Karyawan
Pengembangan
(development) adalah fungsi operasional kedua dari menejemen
personalia. Pengembangan karyawan (baru/ lama) perlu dilakukan secara
terencana dan berkesinambungan. Agar pengembangan dapat dilaksanakan
dengan baik, harus lebih dahulu ditetapkan suatu program pengembangan
karyawan.
Program pengembangan karyawan hendaknya di susun secara cermat
dan didasarkan pada metode-metode ilmiah serta berpedoman pada
keterampilan yang dibutuhkan perusahaan saat ini maupun untuk masa
depan.
Pengembangan harus bertujuan untuk meningkatkan teknis, teoritis, konseptual dan moral karyawan supaya prestasi kerjanya baik dan mencapai hasil yang optimis.
Pengembangan karyawan dirasa semakin penting
manfaatnya karena tuntutan pekerjaan atau jabatan, sebagai akibat
kemajuan teknologi dan semakin ketatnya persaingan diantara perusahaan
yang sejenis. Setiap personil perusahaaan dituntut agar dapat bekerja
efektif, efisien, kualitas dan kuantitas pekerjaannya baik sehingga daya
saing perusahaan semakin besar.
Pengembangan ini dilakukan
untuk tujuan nonkarier maupun karir bagi para karyawan (baru atau lama)
melalui latihan dan pendidikan.
Pimpinan perusahaan semakin menyadari
bahwa karyawan baru pada umunnya mempunyai kecakapan
teoritis saja dari bangku kuliah. Jadi, perlu dikembangkan dalam
kemampuan nyata untuk dapat menyelesaikan pekerjaanya. Pengembangan
karyawan memang membutuhkam biaya cukup besar, tetapi biaya ini
merupakan investasi jangka panjang bagi perusahaan di bidang personalia.
Karena karyawan yang cakap dan terampil akan dapat bekerja lebih
efisien, efektif, pemborosan bahan baku, dan ausnya mesin berkurang,
hasil kerjanya lebih baik maka daya saing perusahaan akan semakin
besar,.
Hal ini akan memberi peluang lebih baik maka yang lebih baik
bagi perusahaan untuk memperoleh laba yang semakin besar sehingga balas
jasa (gaji dan benefit) karyawan dapat dinaikan. Untuk lebih jelasnya
akan di bahas pengertian pengembangan berdasarkan beberapa versi.
Definisi Pengembangan
Pengembangan
adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis,
konseptual, dan moral karyawan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan/ jabatan
melalui pendidikan dan latihan.
Pengembangan bertujuan untuk peningkatkan keahlian teoritis, konseptual, dan moral karyawan
sedangkan, latihan bertujuan untuk meningkatkan keterampilan teknis pelaksanaan pekerjaan karyawan.
Menurut Intruksi President Republik Indonesia Nomor 15 tanggal 13 september 1974Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia Indonesia, jasmaniah, rohaniah, yang berlangsung seumur hidup, baik di dalam maupun diluar sekolah, dalam rangka pembangunan persatuan indonesia dan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Latihan adalah bagian pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan diluar sistem pendidikan yang berlaku, dalam waktu yang relatif singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktek daripada teori.Tujuan Pendidikan Nasional Menurut Tap. MPR No. 11/MPR/1993Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur , berkepribadian mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja profesional, bertangguh jawab dan produktif, serta sehat jasmaniah dan rohani.
Pendidikan juga harus mampu menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dan menghargai jasa para pahlawan serta berorientasi masa depan.
Iklim belajar dan mengajar yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan budaya belajar di kalangan masyarakat harus di kembangkan agar tumbuh sikap dan perilaku yang kreatif, inovatif, dan keinginan untuk maju.Edwin B. FlippoEducation is concerned with increasing general knowledge and understanding of or total environment. (Pendidikan adalah hubungan dengan peningkatan pengetahuan umum dan pemahaman atas lingkungan kita secara menyeluruh)Training is the act increasing the knowledge and skill of an employye for doing a particular job (Latihan adalah merupakan usaha peningkatan pengetahuan dan keahlian seorang karyawan untuk mengerjakan suatu pekerjaan tertentu)Andrew F. SikulaDevelopment in reference to staffing and personnel matters, is a long term educational process utilizing a sistematic and organized procedur by which managerial personel learn conceptual and theoritical knowledge for general purposes (steinmetz). (Pengembangan mengacu pada masalah staf dan personel adalah suatu proses pendidikan jangka panjang menggunakan suatu prosedur yang sistematis dan terorganisasi dengan manajer belajar pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan umum)Training is a short term educational process utilizing a systematic and organized procedur by which nonmanagerial personel larn thecnical knowledge and skill for a definite purpose. (Latihan adalah suatu proses pendidikan jangka pendek dapat menggumakan prosedur yang sistematis dan terorganisir, sehingga karyawan operasional belajar pengetahuan teknik pengerjaan dan keahlian untuk tujuan tertentu)Drs. Jan BelaPendidikan dan latihan sama dengan pengembangan yaitu merupakan proses peningkatan keterampilan kerja baik teknis maupun manajerial. Pendidikan berorientasi pada teori, di lakukan dalam kelas, berlangsung lama, dan biasanya menjawab why. Latihan berorientasi pada praktek dilakukan di lapangan, berlangsung singkat, dan biasanya menjawab how.
Tujuan Pembangunan
Pengembangan
karyawan bertujuan dan bermanfaat bagi perusahaan, karyawan, konsumen,
atau masyarakat yang mengkonsumsi barang/jasa yang di hasilkan
perusahaan.
Tujuan pengembangan hakikatnya menyangkut hal-hal berikut :
Tujuan pengembangan hakikatnya menyangkut hal-hal berikut :
Ø Produktifitas Kerja
Dengan
pengembangan, Produktifitas kerja karyawan akan meningkat, kualitas dan
kuantitas produksi semakin baik, karena technical skill, human skill,
dan managerial skill karyawan yang semakin baik.
Ø Efisiensi
Pengembangan
karyawan bertujuan untuk meningkatkan efisiensi tenaga, waktu, bahan
baku, dan mengurangi ausnya, mesin-mesin. Pemborosan berkurang, biaya
produksi relatif kecil sehingga daya saing perusahaan semakin besar.
Ø Kerusakan
Pengembangan
karyawan bertujuan untuk mengurangi kerusakan barang, sehingga jumlah
biaya pengolahan yang di keluarkan perusahaan berkurang.
Ø Kecelakaan
Pengembangan
bertujuan untuk mengurangi tingkat kecelakaan karyawan, sehingga jumlah
pengobatan yang dikeluarkan perusahaan berkurang.
Ø Pelayanan
Pengembangan
bertujuan untuk meningkatkan pelayanan yang lebih baik dari karyawan
kepada nasabah perusahaan, karena pemberian perusahaan yang baik
merupakan daya penarik yang sangat penting bagi rekanan-rekanan
perusahaan yang bersangkutan.
Ø Moral
Dengan
pengembangan moral karyawan akan lebih baik karena keahlian dan
keterampilanya sesuai dengan pekerjaaan sehingga mereka antusias untuk
menyelesaikan pekerjaanya dengan baik.
Ø Karier
Dengan
pengembangan kesempatan untuk meningkatkan karier karyawan semakin
besar, karena keahlian, keterampilan dan prestasi kerjanya lebih baik.
Promosi inilah yang biasanya didasarkan kepada keahlian dan prestasi
kerja seseorang.
Ø Konseptual
Dengan
pengembangan manajer semakin cakap dan cepat dalam mengambil keputusan
yang lebih baik, karena thecnical skill, human skill, dan managerial
skillnya kebih baik.
Ø Kepemimpinan
Dengan
pengembangan kepemimpinan seorang manager akan lebih baik, human
relationsnya lebih luwes, motifasinya lebih terarah sehingga pembinaan
kerja sama vertikal dan horizontal semakin harmonis.
Ø Balas Jasa
Dengan
pengembangan balas jasa (gaji, upah insentif, dan benefits) karyawan
akan meningkat karena prestasi kerja mereka semakin besar.
Ø Konsumen
Pengembangan
karyawan akan memberikan manfaat yang baik bagi masyarakat konsumen
karena mereka akan memperoleh barang atau pelayanan yang lebih bermutu.
Pengembangan
karyawan (pendidikan dan latihan) perlu dilakukan setiap perusahaan
karena akan memberikan manfaat bagi perusahaan, karyawan, dan masyarakat
konsumen.
Prinsip Pengembangan
Prinsip pengembangan adalah peningkatan kualitas dan kemampuan bekerja karyawan, dengan :
Program Pengembangan
Program
adalah suatu jenis rencana yang konkret karena didalamnya sudah
tercantum sasaran, kebijaknsanaan, prosedur, anggaran, dan waktu
pelaksanaanya. Jelasnya suatu program sudah pasti di lakukan. Supaya
pengembangan ini mencapai hasil yang baik dengan biaya relatif kecil
hendaknya terlebih dahulu ditetapkan program pengembangan. Dalam program
pengembangan harus di tuangkan sasaran, kebijaksanaan, prosedur,
anggaran, peserta, kurikulum, dan waktu pelaksanaannya. Program
pengembangan harus berprinsipkan pada peningkatan efektifitas dan
efisiensi kerja masing-masimg karyawan pada jabatannya. Program
pengembangan suatu organisasi hendaknya di informasikan secara terbuka
kepada semua karyawan atau anggota supaya mereka mempersiapkan dirinya
masing-masing.
Jenis-Jenis Pengembangan
Jenis-jenis pengembangan dikelompokan atas pengembangan secara informal dan pengembangan secara formal.
a. Pengembangan secara informal
yaitu karyawan atas keinginan dan usaha sendiri melatih dan
mengembangkan dirinya dengan mempelajari buku-buku literatur yang ada
hubunganya dengan pekerjaan atau jabatanya. Pengembangan secara informal
menunjukan bahwa karyawan tersebut berkeinginan keras untuk maju dengan
cara meningkatkan kemampuan kerjanya. Hal ini bermanfaat bagi
perusahaan karena prestasi kerja karyawan semakin besar, di samping
efisiensi dan produktifitasnya juga semakin baik.
b. Pengembangan secara formal
yaitu karyawan ditugaskan perusahaan untuk mengikuti pendidikan atau
latihan, baik yang dilakukan perpisahan maupun yang di laksanakan oleh
lembaga - lembaga pendidikan atau pelatihan. Pengembangan secara formal
dilakukan perusahaan karena tuntutan pekerjaan saat ini ataupun masa
datang, yang sifatnya nonkarier atau peningkatanya karier seseorang karyawan
Peserta Pengembangan
Pesetrta
yang akan mengikuti pengembangan dari suatu perusahaan adalah karyawan
baru dan lama, baik dia tenaga operasional atau karyawan manajerial.
a. Karyawan baru
yaitu karyawan yang baru diterima bekerja pada perusahaan. Mereka
diberi pengembangan agar memahami, terampil, dan ahli dalam
menyelesaikan pekerjaannya, sehingga para karyawan dapat bekerja efisien
dan efektif pada jabatan pekerjaannya.
Pengembangan karyawan baru perlu dilaksanakan agar teori dasar yang telah mereka kuasai dapat diimplementasikan secara baik dalam pekerjaannya.
Pengembangan karyawan baru perlu dilaksanakan agar teori dasar yang telah mereka kuasai dapat diimplementasikan secara baik dalam pekerjaannya.
b. Karyawan lama
yaitu karyawan lama yang di tugaskan perusahaan untuk mengikuti
pengembangan, seperti pada Balai Pusat Latihan Kerja. Pengembangan
karyawan lama dilaksanakan karena tuntutan pekerjaan, jabatan, perluasan
perusahaan, penggantian mesin lama dengan mesin baru, pembaruan metode
kerja, serta persiapan untuk promosi. Jelasnya pengembangan karyawan
lama perlu dilaksanakan agar para karyawan semakin memahami technical
skill, human skill, manageril skill, supaya moral kerja dan prestasi
kerjanya meningkat.
Proses pengembangan
Langkah-langkah pengembangan hendaknya dilakukan sebagai berikut.
a. Sasaran
Setiap
pengembangan harus terlebih dahulu ditetapkan secara jelas sasaran yang
ingin dicapai. Apakah sasaran pengembangan untuk pengembangan untuk
meningkatkan kemampuan dan keterampilan teknis mengerjakan pekerjaan (technical skill) ataukah untuk meningkatkan kecakapan memimpin (managerial skill) dan conceptual skill.
Penetapan sasaran harus didasarkan kepada kebutuhan jabatan atau pekerjaaan dari karyawan yang bersangkutan.
Penetapan sasaran harus didasarkan kepada kebutuhan jabatan atau pekerjaaan dari karyawan yang bersangkutan.
b. Kurikulum
Kurikulum
atau mata pelajaran yang akan diberikan harus mendukung tercapainya
sasaran dari pengembangan itu. Kurikulum harus ditetapkan secara
sistematis, jumlah jam pertemuan, metode pengajaran, dan sistem
evaluasinya harus jelas agar sasaran dari pengembangan itu optimal.
c. Sarana
Mempersiapkan
tempat dan alat-alat yang akan digunakan dalam pelaksanaan
pengembangan. Penyediaan tempat dan alat-alat harus didasarkan pada
prinsip ekonomi serta berpedoman pada sasaran pengembangan yang ingin
dicapai.
Misalnya: tempat pengembangan sebaiknya mempunyai latar belakang yang relatif homogen dan jumlahnya ideal, supaya kelancaran pengembangan terjamin.
Misalnya: tempat pengembangan sebaiknya mempunyai latar belakang yang relatif homogen dan jumlahnya ideal, supaya kelancaran pengembangan terjamin.
e. Peserta
Menetapkan
syarat-syarat dan jumlah peserta yang dapat mengikuti pengembangan.
Misalnya usia, jenis kelamin, pengalaman kerja, dan latar belakang
pendidikannya. Peserta pengembangan sebaiknya mempunyai latar belakang
yang relatif homogen dan jumlahnya ideal, Supaya kelancaran pengembangan
terjamin.
f. Pelatih
Menunjuk
pelatih atau instruktur yang memenuhi persyaratan untuk mengajar mata
pelajaran sehingga sasaran pengembangan tercapai. Pengangkatan pelatih
atau instruktur harus berdasarkan kemampuan objektf (teoritis dan
praktis) bukan didasarkan pada kawan atau saudara. Dengan pelatih yang qualified akan menghasilkan peserta didik yang baik.
f. Pelaksanaan
Melaksanakan
proses belajar-mengajar artinya setiap pelatih mengajarkan materi
pelajaran kepada peserta pengembangan. Proses belajar-mengajar harus di
akhiri dngan ujian atau evaluasi utuk mengetahui sasaran pengembangan
tercapai atau tidak.
Metode-Metode Pengembangan
Pelaksanaan
pengembangan (training and education) harus didasarkan pada
metode-metode yang telah ditetapkan dalam program pengembangan
perusahaan. Program pengembangan ditetapkan oleh penanggung jawab
pengembangan yaitu manajer personalia dan atau suatu tim.
Dalam program pengembangan telah ditetapkan sasaran, proses, waktu dan metode pelaksanaannya. Supaya lebih baik program ini hendaknya disusun oleh manajer personalia dan atau suatu tim serta mendapat saran, ide, maupun kritik yang bersifat konstruktif. Metode-metode pengembangan harus didasarkan kepada sasaran yang ingin dicapai.
Dalam program pengembangan telah ditetapkan sasaran, proses, waktu dan metode pelaksanaannya. Supaya lebih baik program ini hendaknya disusun oleh manajer personalia dan atau suatu tim serta mendapat saran, ide, maupun kritik yang bersifat konstruktif. Metode-metode pengembangan harus didasarkan kepada sasaran yang ingin dicapai.
Sasaran pengembangan karyawan adalah :
1. meningkatkan kemampuan dan keterampilan teknis mengerjakan pekerjaan atau technical skill.
2. Meningkatkan keahlian dan kecakapan memimpin serta mengambil keputusan atau manageral skill dan conceptual skill.
Metode pengembangan terdiri atas :
1. Metode pelatihan atau training
2. Metode pendidikan atau education
Latihan/training diberikan kepada karyawan operasional, sedangkan pendidikan/education diberikan kepada karyawan manajerial.
Dasar Training
Pelatihan atau Magang adalah proses melatih; kegiatan atau pekerjaan (KBBI edisi 2, Balai Pustaka, 1989). Pelatihan mempersiapkan peserta latihan untuk mengambil jalur tindakan tertentu yang dilukiskan oleh teknologi dan organisasi
tempat bekerja, dan membantu peserta memperbaiki prestasi dalam
kegiatannya terutama mengenai pengertian dan keterampilan. (Rolf P.
Lynton dan Udai Pareek--Pelatihan dan Pengembangan Tenaga Kerja, Pustaka
Binaman Jakarta 1998)
Pengertian Pelatihan dalam Manajemen Sumber daya Manusia
Pengertian Pelatihan dalam Manajemen Sumber daya Manusia
Cut Zurnali (2004), mengemukakan beberapa pendapat para ahli mengenai definisi pelatihan sebagai berikut:
- Noe, Hollenbeck, Gerhart & Wright (2003:251) mengemukakan, training is a planned effort to facilitate the learning of job-related knowledge, skills, and behavior by employee. Hal ini berarti bahwa pelatihan merupakan suatu usaha yang terencana untuk memfasilitasi pembelajaran tentang pekerjaan yang berkaitan dengan pengetahuan, keahlian dan perilaku oleh para pegawai.
- Menurut Gomes (2003:197), pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki performansi pekerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya, atau satu pekerjaan yang ada kaitannya dengan pekerjaannya
- Menurut Robbins, Stephen P, (2001:282), Training meant formal training that’s planned in advanced and has a structured format. Ini menunjukkan bahwa pelatihan yang dimaksudkan disini adalah pelatihan formal yang direncanakan secara matang dan mempunyai suatu format pelatihan yang terstruktur.
- Menurut Bernardin dan Russell (1998:172), Training is defined as any attempt to improve employee performance on a currently held job or one related to it. This usually means changes in spesific knowledges, skills, attitudes, or behaviors. To be effective, training should involve a learning experience, be a planned organizational activity, and be designed in response to identified needs. Jadi pelatihan didefinisikan sebagai berbagai usaha pengenalan untuk mengembangkan kinerja tenaga kerja pada pekerjaan yang dipikulnya atau juga sesuatu berkaitan dengan pekerjaannya. Hal ini biasanya berarti melakukan perubahan perilaku, sikap, keahlian, dan pengetahuan yang khusus atau spesifik. Dan agar pelatihan menjadi efektif maka di dalam pelatihan harus mencakup suatu pembelajaraan atas pengalaman-pengalaman, pelatihan harus menjadi kegiatan keorganisasian yang direncanakan dan dirancang di dalam menanggapi kebutuhan-kebutuhan yang teridentifikasi.
- Menurut Gomez-Mejia, Balkin, dan Cardy (2001:259), training is usually conducted when employees have a skill deficit or when an organization changes a system and employees need to learn new skill. Ini berarti bahwa pelatihan biasanya dilaksanakan pada saat para pekerja memiliki keahlian yang kurang atau pada saat suatu organisasi mengubah suatu system dan para perlu belajar tentang keahlian baru.
- Menurut DeCenzo dan Robin (1999:227), Training is a learning experience in that it seeks a relatively permanent change in an individual that will improve the ability to perform on the job. Ini berarti bahwa pelatihan adalah suatu pengalaman pembelajaran di dalam mencari perubahan permanen secara relatif pada suatu individu yang akan memperbaiki kemampuan dalam melaksanakan pekerjaannya itu.
- Menurut Never Ending Transfusing - Application Training (NET-at), Pelatihan adalah kegiatan belajar dan praktek untuk sesuatu tujuan baik, dilakukan secara berulang-ulang dan terus-menerus untuk meningkatkan kemampuan (continuously and never end) manusia, dan fitrahnya.
Cut Zurnali (2004) menjelaskan bahwa pengertian pelatihan yang
dikemukakan oleh para ahli di atas sering dijadikan acuan dalam
riset-riset manajemen sumberdaya manusia, psikologi industri, dan
administrasi. Definisi-definisi para ahli tersebut dapat dengan lengkap
mendeskripsikan mengenai arti dan tujuan pelatihan.
Tujuan Dan Manfaat Pelatihan
Menurut Cut Zurnali (2004), the goal of training is for employees to
master knowledge, skills, and behaviors emphasized in training programs
and to apply them to their day-to-day activities. Hal ini berarti bahwa
tujuan pelatihan adalah agar para pegawai dapat menguasai pengetahuan,
keahlian dan perilaku yang ditekankan dalam program-program pelatihan
dan untuk diterapkan dalam aktivitas sehari-hari para karyawan.
Pelatihan juga mempunyai pengaruh yang besar bagi pengembangan
perusahaan.
Cut Zurnali (2004) memaparkan beberapa manfaat pelatihan yang diselenggarakan oleh perusahaan yang dikemukakan oleh Noe, Hollenbeck, Gerhart, Wright (2003), yaitu:
- Meningkatkan pengetahuan para karyawan atas budaya dan para pesaing luar,
- Membantu para karyawan yang mempunyai keahlian untuk bekerja dengan teknologi baru,
- Membantu para karyawan untuk memahami bagaimana bekerja secara efektif dalam tim untuk menghasilkan jasa dan produk yang berkualitas,
- Memastikan bahwa budaya perusahaan menekankan pada inovasi, kreativitas dan pembelajaran,
- Menjamin keselamatan dengan memberikan cara-cara baru bagi para karyawan untuk memberikan kontribusi bagi perusahaan pada saat pekerjaan dan kepentingan mereka berubah atau pada saat keahlian mereka menjadi absolut,
- Mempersiapkan para karyawan untuk dapat menerima dan bekerja secara lebih efektif satu sama lainnya, terutama dengan kaum minoritas dan para wanita.
Tiga Level Analisis Penentuan Kebutuhan Pelatihan
Menurut Cut Zurnali (2004), terdapat 3 (tiga) tingkatan atau level
analisis dalam menentukan kebutuhan pelatihan yang harus dipenuhi,
yaitu:
- Pertama, organization analysis (analisis organisasi): Memfokuskan pada pengenalan di dalam organisasi dimana pelatihan dibutuhkan.
- Kedua, operations analysis (analisis operasi): Mencoba mengenal isi pelatihan-apa yang tenaga kerja harus lakukan agar bekerja secara kompeten.
- Ketiga, individual analysis (analisis individual): Menentukan seberapa baik setiap pekerja atau karyawan yang sedang melakukan tugas dalam menyelesaikan tugasnya.
Menurut Dessler (edisi terjemahan:1997:263), Pelatihan memberikan karyawan baru atau lama suatu keterampilan yang mereka butuhkan untuk menjalankan pekerjaan mereka.
Dengan demikian pelatihan berarti menunjukkan seorang masinis bagaimana mengoperasikan mesin barunya, bagi seorang juru jual baru, bagaimana menjual produk perusahaannya, atau bagi seorang penyelia baru bagaimana mewawancarai dan menilai karyawan.
Indikasi Keberhasilan Suatu Program Pelatihan
Menurut Soekidjo Notoatmodjojo (1991: 53), pelaksanaan program
pelatihan dapat dikatakan berhasil apabila dalam diri peserta pelatihan
tersebut terjadi suatu proses transformasi dalam :
- Peningkatan kemampuan dalam melaksanakan tugas
- Perubahan perilaku yang tercermin pada sikap, disiplin dan etos kerja.
Langganan:
Komentar
(
Atom
)

